Selasa, 16 Agustus 2016

Legolas and Tauriel: Peter Jackson’s fanfiction which everyone think it’s in the book



Thranduil: Legolas said you fought well today. He's grown very fond of you.
Tauriel: I assure you, my Lord, Legolas thinks of me as not more than a captain of the guard.
Thranduil: Perhaps he did once. Now I'm not so sure.
Tauriel: I do not think that you would allow your son to pledge himself to a lowly Silvan elf.
Thranduil: No... You are right, I would not. Still, he cares about you. Do not give him hope where there is none.


Efek terlalu banyak waktu luang membuat saya jadi kembali menekuni hobi menonton film yang beberapa waktu belakangan sempat ditinggalkan, termasuk diantaranya menonton koleksi film yang ada di laptop. Salah satu yang sempat saya tonton ulang adalah trilogi The Hobbit karya Peter Jackson. Bagi pengikut setia novelnya, trilogi film ini banyak mengundang kontroversi. Alasannya? Karena dua tokoh di dua film terakhirnya, Legolas dan Tauriel, SAMA SEKALI TIDAK ADA DI NOVEL ASLINYA.

Yes, I repeat...They Are Totally Fiction.

Saya menulis ini karena sampai sekarang pun banyak yang bertanya pada saya soal dua Elf ini. Jadi, sekalian saja saya jelaskan, ya.

The Hobbit adalah novel yang mengisahkan petualangan Bilbo dengan para Dwarf merebut kembali Erebor. Memang betul, mereka bertemu dengan para Elf di Hutan Mirkwood, yang merupakan kerajaan Raja Thranduil dan yang jeli bisa menyambungkan Thranduil dengan Legolas. Di LOTR Extended version, ada percakapan antara Legolas dan Haldir sewaktu di Lorien dimana Haldir menyapa Legolas dengan bahasa Elf dengan teks Inggris “Welcome to Lorien, Legolas son of Thranduil.” Tolkien memang tidak menjelaskan rinci keluarga Thranduil, bahkan ibu Legolas pun tidak pernah disebut.

Jadi, apa yang salah?

Sebenarnya mungkin maksud Peter Jackson tidak masuk akal kalau Bilbo dkk singgah di Mirkwood tanpa bertemu dengan Legolas. Disamping Mirkwood adalah rumahnya, Legolas juga anak seorang Raja alias pangeran. Tambah menarik lagi karena kapten pasukan di Mirkwood ternyata Elf wanita dimana hal ini sangat jarang terjadi. Hebat juga Mr. Jackson ini, gak tanggung-tanggung bikin fiksi haha...

Kalau mau stay true pada novelnya, Bilbo memang sama sekali tidak bertemu dengan Legolas. Bahkan di novelnya pun nama Thranduil tidak pernah disebut, hanya disebutkan dengan Raja Peri di terjemahan Indonesianya. Keputusan Peter Jackson memunculkan Legolas dan bahkan Tauriel sempat membuat para penggemar novel Tolkien sangat kecewa.


Saya sendiri sebetulnya tidak keberatan asal setidaknya mengikuti novelnya. Tapi, versi Jackson cenderung dibuat menurut versinya dia sehingga membuat The Hobbit kehilangan magisnya. Padahal The Hobbit merupakan cerita prekuel sebelum trilogi Lord of The Rings yang fenomenal itu.

Diluar itu, memang cukup menarik melihat hubungan Legolas dan Tauriel dan nampaknya ada indikasi Thranduil tidak menyetujui hubungan antara keduanya, dan akhirnya Tauriel malah jatuh cintrong dengan salah satu Dwarf (berasa sinet lokal dah...). Jadi, disamping kita melihat perjuangan Bilbo dan para Dwarf, kita juga melihat kisah cinta Legolas yang bertepuk sebelah tangan hehe...

Saya pernah menulis di review film The Hobbit kalau ingin cerita yang sesungguhnya, bacalah novelnya. Versi film sudah terpengaruh sama cerita fiksi cheesy. But still, barangkali yang mau melihat kisah cinta Elf bisa nonton lagi dua film terakhir trilogi The Hobbit.
 


 



Jumat, 12 Agustus 2016

Batman V Superman: Dawn of Justice, Finally!



About Wonder Woman
Superman: “Is she with you?”
Batman: “I thought she is with you.”


Akhirnya kesampaian juga nonton film ini. Banyak membaca yang memuji dan juga mengkritik film ini dan membandingkan dengan Marvel Cinematic Universe yang sudah terlebih dulu eksis sejak beberapa tahun belakangan. DC Comic sepertinya ingin mengikuti jejak Marvel untuk membuat versi sendiri dari komik-komik mereka.

Seperti kita tahu Marvel sudah terlebih dulu memukau moviegoers dan juga penggemar mereka dengan tokoh-tokoh superhero seperti Captain America, Iron Man, Thor, Hawkeye, Hulk dan juga Black Widow. Bahkan diantara mereka memiliki filmnya sendiri-sendiri. DC bisa dibilang baru serius menggarap movie universe nya sejak Man Of Steel tahun 2013 lalu. Mendapat sambutan positif, akhirnya dimulailah proyek ambisius ini. Tidak tanggung-tanggung ada tiga superhero DC yang tampil di film ini, Superman, Batman, dan si ayu Wonder Woman.
 
Film agak berjalan lambat hingga hampir dua jam, agaknya ini yang menjadi kelemahan film ini walaupun mungkin maksudnya untuk membangun plot. Bisa dibilang plotnya baru ketauan setelah lewat pertengahan film dan setelahnya kita bisa lihat aksi tiga superhero ini melawan Doomsday.

Saya memang bukan penggemar berat Marvel ataupun DC. Netral, hanya sebagai moviegoer saja. Dari segi efek dan semua-semuanya bisa dibilang sama bagusnya dengan Marvel. Film ini hanya kedodoran dari segi plot saja. Tidak banyak yang bisa saya nilai dari film ini. Yang pasti kerenlah dan yang pasti mimpi menjadi nyata bagi penggemar Batman maupun Superman bisa melihat jagoannya dalam satu film. Mudah-mudahan saja di film berikutnya bisa ada perbaikan di plotnya agar tidak membuat bosan di awal film.


Soal Superman dan Batman versi yang ini memang terlihat lebih dewasa dan saya mengerti bila banyak yang menilai kalau Ben Affleck sangat bagus bermain sebagai Bruce Wayne dan alter ego-nya. Henry Cavill dan Amy Adams masih punya chemistry di film kedua ini dan memang digambarkan sebagai pasangan yang setia satu sama lain. No love triangle  dan cinta segi-segi yang menurut sutradara dan penulis naskahnya sudah tidak oke lagi di jaman modern seperti sekarang ini dan lebih cocok jadi konsumsi anak baru gede (hmm....lirik fandom-fandom sebelah). Jadi, gosip-gosip ada apa-apa dengan Wonder Woman sepertinya hanya di versi komik saja. Jessie Eisenberg memberi warna baru bagi Lex Luthor di film ini, gilanya dapet dan ngeyelnya juga. Gal Gadot tampil cantik dan juga gagah sebagai Wonder Woman. Lupakan Wonder Woman versi serial tipi tahun 80an itu. Yang ini lebih keren!!

Oh, dan karena judulnya Superman dan Batman bukan berarti film ini bebas ditonton oleh anak-anak. Jika memang ingin menonton, sebaiknya dampingi karena ini bukan Superman atau Batman untuk konsumsi anak-anak.

Nilai: 7,5/10